Egoisme manusia (aku!)
Posted by Pezzy at 12:28 AM on August 8, 2004.
Manusia memang identik dengan egoisme. Tak pernah puas dengan apa yang sudah diraih dan dimiliki. Selalu ingin lebih. Ingin milik orang lain. Ingin sesuatu yang terkadang tidak mungkin dapat dimiliki. Namun manusia tetap menginginkannya. Hal-hal paling mustahil di dunia menjadi ambisi terbesar bagi manusia untuk diraih. Mungkin egoisme dituang terlalu banyak dalam diri manusia. Mungkin Tuhan telah salah menakar dosis egoisme dalam diri manusia. Hingga jadilah manusia-manusia yang egois dan tak pernah puas.
Mungkin kau berpikir mengapa aku berpikiran seperti itu. Terlalu kejam. Terlalu menggurui. Terlalu sok tahu.
Namun aku berani berkata “Aku memang tahu.” Karena aku sendiri sungguh mengalaminya. Ya, aku memang manusia! Dan aku tahu kalau aku egois. Tidak hanya aku, namun juga kau dan semua manusia-manusia lain di dunia ini yang masih merasa dan memiliki jiwa manusia dalam dirinya. Mungkin kau dan semua manusia-manusia itu tidak pernah sadar akan egoisme yang ada dalam diri manusia.
Atau mungkin kau dan semua manusia-manusia itu sadar, namun kalian tak mampu bahkan tak mau mengakuinya. Mengakui egoisme yang ada dan tertanam dalam diri manusia. Egoisme yang selalu menghantui, bahkan merajai diri manusia. Lalu mengapa? Mengapa manusia tetap saja egois? Dan mengapa manusia tidak mau mengaku?
Aku egois. Ya, aku egois! Manusia yang egois. Aku menginginkan sesuatu yang bukan milikku. Sesuatu yang tidak Tuhan anugerahkan padaku. Aku ingin sesuatu yang menjadi milik orang lain. Sesuatu yang bahkan terasa takkan pernah dapat aku raih. Lalu mengapa? Mengapa aku masih saja mengharapkannya?
Tuhan memang baik. Dulu sekali, aku memohon agar aku dipertemukan olehmu. Ya, memang Tuhan memang baik. Tuhan mengabulkannya. Aku bertemu denganmu. Di suatu waktu, suatu masa, suatu tempat. Mungkin lebih baik jika kukatakan aku melihatmu. Entah bila engkau melihatku. Mungkin kau melihatku. Sekilas dan tidak berarti. Kecil, kecil di matamu. Mungkin memang seperti itulah aku. Kecil dan tidak berarti.
Namun aku sungguh. Sungguh bahagia melihatmu. Walaupun hanya sejenak di suatu waktu, suatu masa, suatu tempat. Bersyukur. Mungkin itu yang aku katakan. Mungkin itu yang terwujud dalam hatiku. Dalam segala kata-kataku. Segala doaku.
Namun kau tahu? Dalam hatiku, aku mengharap lebih. Lebih. Seperti manusia dengan egoisme yang ada. Ingin lebih dari yang diraih dan dimiliki. Aku kembali berbisik pada Tuhan dalam hatiku yang egois. Bila saja Tuhan mengizinkan aku untuk bertemu lagi denganmu. Mungkin dalam suatu waktu, suatu masa, suatu tempat yang lain.
Bulan demi bulan berlalu. Bayang wajahmu mulai memudar dari hati dan ingatku. Memudar namun tak pernah hilang. Luntur namun masih menyisakan noda. Bekas setitik dalam hatiku, dalam ingatku. Terkadang saat aku ingat dan memikirkanmu, enyahkan kau dari pikirku rasanya susah sulit. Namun kupikir aku berhasil melupakanmu. Menghapus jejakmu dalam hatiku, dalam ingatku.
Saat aku bersuka karena telah kulupakanmu, kau kembali hadir. Datang. Dalam suatu waktu, suatu masa, suatu tempat yang lain. Rupanya Tuhan masih mengingat bisikanku. Harapku dalam kelam malam sunyi berbulan-bulan yang lampau. Kau dan aku kembali berjumpa.
Kusangka telah lupa akan dirimu. Namun bayang wajahmu yang mulai memudar kembali nyata. Nampak jelas dalam hatiku, dalam ingatku. Lagu yang dulu pernah terdengar dalam kalbu kembali mengalun. Tenang dan damai. Hatiku masih mengingatmu! Degup jantungku menyerukan aku masih mengharapmu. Mengharapmu, sesuatu yang mungkin takkan pernah dapat kuraih. Mengharapmu, milik manusia lain yang semakin jauh dari tanganku.
Berkas sinar mentari kembali hangat menerangi hatiku. Sunyi dan kelam berganti riuh dan terang. Rasanya ingin aku menari, bernyanyi. Bersyukur. Ya, itu yang kulakukan dan kukira kulakukan. Bersyukur. Berterima kasih atas perjumpaan kembaliku denganmu. Yang saat telah memudar dan kulupa, namun kembali hadir menyemarakkan hariku.
Kukira aku telah puas. Tak lagi akan berharap. Berhenti. Berhenti. Namun aku manusia. Manusia dengan egoisme. Selalu ingin lebih dari yang diraih. Selalu ingin sesuatu yang tak dapat dijangkau. Aku kembali ingin bertemu denganmu. Mengenalmu. Lebih dekat. Lebih dalam.
Kembali aku berbisik pada Tuhan, jika aku dapat kembali bersua denganmu. Berulang kali kembali Tuhan mengabulkan bisikku. Saat bayangmu mulai memudar. Saat kukira hadirmu tak lagi jadi mimpi dan harapku. Perjumpaan kembali menyapa. Sinar mentari kembali menyinari. Dalam rupa sesosok manusia. Dalam raut sebuah wajah. Dalam bentuk seraut senyum.
Berulang dan berulang. Hal ini terus berulang. Bertemu. Berpisah. Berharap. Berbisik. Pudar. Lupa. Hilang. Jumpa. Datang. Kembali. Sinar. Harap. Ingin. Egois. Ya, aku manusia. Manusia dengan egoisme. Ingin sesuatu yang lebih dari yang kuraih.
Aku mulai lelah. Mulai berhenti berharap. Kurasa telah tiba waktuku untuk berhenti berbisik akan harapku padamu. Berhenti. Aku ingin berhenti. Ingin kuhapus segala jejakmu dalam hatiku, dalam ingatku. Kini aku berbisik pada Tuhan. Sekali lagi perjumpaan terakhir jika dikehendaki. Terakhir. Sekali lagi.
Berbulan-bulan berlalu. Menit rasa abad. Hancur. Hancur. Berhenti berharap. Melupakan. Sulit. Namun tiba lagi saat kita berjumpa. Dalam suatu waktu, suatu masa, suatu tempat. Saat tak kuharap. Saat tak ku siap. Kembali kau hadir. Menyemarakkan hatiku. Mewarnai hariku dengan makna-makna kelabu. Denting-denting lagu yang sama kembali mengalun. Mengiringi detak nadiku.
Namun aku tetap manusia. Manusia yang egois. Ingin selalu lebih dari yang diraih. Ingin sesuatu milik orang lain yang tak mungkin terjangkau. Kini kembali ku berbisik pada Tuhan. Janganlah ini menjadi yang terakhir. Bila sekarang berpisah, kuharap nanti. Dalam suatu waktu, suatu masa, suatu tempat yang lain. Kuharap perjumpaan kan kembali menyapaku. Aku dan kau.
Mungkin kau berpikir mengapa aku berpikiran seperti itu. Terlalu kejam. Terlalu menggurui. Terlalu sok tahu.
Namun aku berani berkata “Aku memang tahu.” Karena aku sendiri sungguh mengalaminya. Ya, aku memang manusia! Dan aku tahu kalau aku egois. Tidak hanya aku, namun juga kau dan semua manusia-manusia lain di dunia ini yang masih merasa dan memiliki jiwa manusia dalam dirinya. Mungkin kau dan semua manusia-manusia itu tidak pernah sadar akan egoisme yang ada dalam diri manusia.
Atau mungkin kau dan semua manusia-manusia itu sadar, namun kalian tak mampu bahkan tak mau mengakuinya. Mengakui egoisme yang ada dan tertanam dalam diri manusia. Egoisme yang selalu menghantui, bahkan merajai diri manusia. Lalu mengapa? Mengapa manusia tetap saja egois? Dan mengapa manusia tidak mau mengaku?
Aku egois. Ya, aku egois! Manusia yang egois. Aku menginginkan sesuatu yang bukan milikku. Sesuatu yang tidak Tuhan anugerahkan padaku. Aku ingin sesuatu yang menjadi milik orang lain. Sesuatu yang bahkan terasa takkan pernah dapat aku raih. Lalu mengapa? Mengapa aku masih saja mengharapkannya?
Tuhan memang baik. Dulu sekali, aku memohon agar aku dipertemukan olehmu. Ya, memang Tuhan memang baik. Tuhan mengabulkannya. Aku bertemu denganmu. Di suatu waktu, suatu masa, suatu tempat. Mungkin lebih baik jika kukatakan aku melihatmu. Entah bila engkau melihatku. Mungkin kau melihatku. Sekilas dan tidak berarti. Kecil, kecil di matamu. Mungkin memang seperti itulah aku. Kecil dan tidak berarti.
Namun aku sungguh. Sungguh bahagia melihatmu. Walaupun hanya sejenak di suatu waktu, suatu masa, suatu tempat. Bersyukur. Mungkin itu yang aku katakan. Mungkin itu yang terwujud dalam hatiku. Dalam segala kata-kataku. Segala doaku.
Namun kau tahu? Dalam hatiku, aku mengharap lebih. Lebih. Seperti manusia dengan egoisme yang ada. Ingin lebih dari yang diraih dan dimiliki. Aku kembali berbisik pada Tuhan dalam hatiku yang egois. Bila saja Tuhan mengizinkan aku untuk bertemu lagi denganmu. Mungkin dalam suatu waktu, suatu masa, suatu tempat yang lain.
Bulan demi bulan berlalu. Bayang wajahmu mulai memudar dari hati dan ingatku. Memudar namun tak pernah hilang. Luntur namun masih menyisakan noda. Bekas setitik dalam hatiku, dalam ingatku. Terkadang saat aku ingat dan memikirkanmu, enyahkan kau dari pikirku rasanya susah sulit. Namun kupikir aku berhasil melupakanmu. Menghapus jejakmu dalam hatiku, dalam ingatku.
Saat aku bersuka karena telah kulupakanmu, kau kembali hadir. Datang. Dalam suatu waktu, suatu masa, suatu tempat yang lain. Rupanya Tuhan masih mengingat bisikanku. Harapku dalam kelam malam sunyi berbulan-bulan yang lampau. Kau dan aku kembali berjumpa.
Kusangka telah lupa akan dirimu. Namun bayang wajahmu yang mulai memudar kembali nyata. Nampak jelas dalam hatiku, dalam ingatku. Lagu yang dulu pernah terdengar dalam kalbu kembali mengalun. Tenang dan damai. Hatiku masih mengingatmu! Degup jantungku menyerukan aku masih mengharapmu. Mengharapmu, sesuatu yang mungkin takkan pernah dapat kuraih. Mengharapmu, milik manusia lain yang semakin jauh dari tanganku.
Berkas sinar mentari kembali hangat menerangi hatiku. Sunyi dan kelam berganti riuh dan terang. Rasanya ingin aku menari, bernyanyi. Bersyukur. Ya, itu yang kulakukan dan kukira kulakukan. Bersyukur. Berterima kasih atas perjumpaan kembaliku denganmu. Yang saat telah memudar dan kulupa, namun kembali hadir menyemarakkan hariku.
Kukira aku telah puas. Tak lagi akan berharap. Berhenti. Berhenti. Namun aku manusia. Manusia dengan egoisme. Selalu ingin lebih dari yang diraih. Selalu ingin sesuatu yang tak dapat dijangkau. Aku kembali ingin bertemu denganmu. Mengenalmu. Lebih dekat. Lebih dalam.
Kembali aku berbisik pada Tuhan, jika aku dapat kembali bersua denganmu. Berulang kali kembali Tuhan mengabulkan bisikku. Saat bayangmu mulai memudar. Saat kukira hadirmu tak lagi jadi mimpi dan harapku. Perjumpaan kembali menyapa. Sinar mentari kembali menyinari. Dalam rupa sesosok manusia. Dalam raut sebuah wajah. Dalam bentuk seraut senyum.
Berulang dan berulang. Hal ini terus berulang. Bertemu. Berpisah. Berharap. Berbisik. Pudar. Lupa. Hilang. Jumpa. Datang. Kembali. Sinar. Harap. Ingin. Egois. Ya, aku manusia. Manusia dengan egoisme. Ingin sesuatu yang lebih dari yang kuraih.
Aku mulai lelah. Mulai berhenti berharap. Kurasa telah tiba waktuku untuk berhenti berbisik akan harapku padamu. Berhenti. Aku ingin berhenti. Ingin kuhapus segala jejakmu dalam hatiku, dalam ingatku. Kini aku berbisik pada Tuhan. Sekali lagi perjumpaan terakhir jika dikehendaki. Terakhir. Sekali lagi.
Berbulan-bulan berlalu. Menit rasa abad. Hancur. Hancur. Berhenti berharap. Melupakan. Sulit. Namun tiba lagi saat kita berjumpa. Dalam suatu waktu, suatu masa, suatu tempat. Saat tak kuharap. Saat tak ku siap. Kembali kau hadir. Menyemarakkan hatiku. Mewarnai hariku dengan makna-makna kelabu. Denting-denting lagu yang sama kembali mengalun. Mengiringi detak nadiku.
Namun aku tetap manusia. Manusia yang egois. Ingin selalu lebih dari yang diraih. Ingin sesuatu milik orang lain yang tak mungkin terjangkau. Kini kembali ku berbisik pada Tuhan. Janganlah ini menjadi yang terakhir. Bila sekarang berpisah, kuharap nanti. Dalam suatu waktu, suatu masa, suatu tempat yang lain. Kuharap perjumpaan kan kembali menyapaku. Aku dan kau.